“Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menjunjung tinggi aneka keberagaman sosial masyarakat. Berbagai element masyarakat bisa bersanding dalam kehidupan tentu menjadi sebuah cerita yang indah kepada anak cucu,” demikian kata Cahyo utomo pejabat Komnas HAM dalam acara Sarasehan Penegakan HAM dan Seminar Wawasan Kebangsaan 2017 di Balai Desa Pajeng, Kecamatan Gondang Kabupaten Bojonegoro, Kamis (16/11/2017).

Di Pemerintahan Desa Pajeng, menurut Cahyo, sudah terbentuk keberanekaragaman budaya masyarakat yang semuanya mengesampingkan ego demi mewujudkan desa ramah HAM.

“Termasuk terciptanya Rukun Kematian dan Lumbung Pangan desa,” katanya menambahkan.

Rukun kematian, menurut Cahyo Utomo, berawal dari inisiatif sesepuh desa Pajeng berjumlah lima orang, yang salah satunya adalah Tarwoco mantan Kepala Desa Pajeng. Ketika terjadi peristiwa Pemberontakan PKI tahun 1965, masing-masing masyarakat saling membantai dan membunuh karena berseberangan paham politik saat itu. Bahkan seorang perangkat desa yang baru saja selesai makan pun langsung di sabet pedang di leher hingga putus oleh seseorang.

Waktu berlalu, ditahun 1983 terbentuklah rukun kematian yang di prakarsai oleh lima orang tersebut. Sehingga rasa dendam masing-masing masyarakat bisa di kesampingkan dan saling memaafkan menjadi yang terdepan.

Bermula ketika ada seorang warga yang miskin meninggal dunia, maka yang berangkat untuk takziah sangat sedikit yang hadir. Tapi, jika seorang warga yang meninggal adalah orang yang kaya, maka, yang datang takziah sangat penuh karena di sembelihkan seekor sapi untuk jagongan.

Melihat adanya ketimpangan sosial di masyarakat tersebut. Maka, Mbah Tarwoco dkk membentuk rukun kematian yaitu siapapun yang meninggal tanpa melihat latar belakang dibantu pendanaan dan hal yang terkait dengan biaya pemakaman di ambilkan dari dana yang dihimpun oleh masyarakat sendiri dan dikelola perangkat desa.

“Jadi semua warga masyarakat merasa punya tanggung jawab demi kebersamaan. Bahkan uang yang terkumpul semua ada laporan keuangan yang terperinci sehingga semua bisa mengetahuai uang yang dikeluarkan digunakan untuk apa saja,” terang Cahyo Utomo yang pernah bertugas menyelesaikan konflik di Afrika, Kamboja dan Myanmar tersebut.

Semua menjadi guyub rukun, saling gotong royong, saling tolong menolong dan saling memaafkan dan melupakan sejarah masa kelam. Tidak memandang perbedaan agama, suku, ras dan keturunan untuk mewujudkan desa Pajeng yang berkeadilan sosial.

Acara yang mengambil tema ” Mengembangkan Kecerdasan Lokal Desa Pajeng Sebagai Inspirasi Untuk Bersatu Melangkah Maju Menuju Indonesia Yang Berkemajuan” ini dihadiri oleh Bupati Bojonegoro Suyoto, Kepala Kebangpol Kusbiyanto, Kapolres Bojonegoro Wahyu S Bintoro, Kepala SKPD, Camat se- Kabupaten Bojonegoro serta undangan dari berbagai organisasi masyarakat termasuk Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII).

Hadir pula Pejabat dari Lemhanas, Unit Kerja Presiden dan Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), Pejabat dari Komnas HAM, berbagai perguruan silat yang ada di Bojonegoro termasuk Persinas ASAD, Kepala Desa Pajeng dan Sesepuh desa Pajeng.

Bupati Bojonegoro Suyoto, dalam sambutannya mengatakan, bahwa di desa Pajeng ini ada sebuah makam tokoh Nasrani bernama Bernandus yang masih dirawat oleh warga sekitar. Karena warga desa Pajeng sangat menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama. Hidup berdampingan tidak memandang latar belakang warga.

“Sudah meninggal pun, makamnya orang nasrani masih dirawat oleh orang muslim, apalagi masih hidup. Jelas mereka bisa hidup secara berdampingan,” jelas Suyoto disambut tepuk tangan undangan.

Bahkan Suyoto ketika menyelesaikan naskah Desertasi S2nya di Universitas Muhammadiyah mengangkat tema Desa Pajeng sebagai desa ramah HAM. Sehingga mendapat apresiasi dari para penguji. “Karena itu saya yakin desa Pajeng ini sebagai pelopor desa ramah HAM di Bojonegoro khususnya, dan Indonesia pada umumnya,” harap Suyoto.

Di akhir acara seluruh perangkat desa Pajeng yang di Pimpin oleh Kepala Desa naik podium untuk membacakan “Deklarasi Pajeng”. Di ikuti dengan menyanyikan lagu Padamu Negeri secara bersama-sama oleh semua undangan. (assa.com)

2+

Users who have LIKED this post:

  • avatar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *