Lelaki salih dan alim itu, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, pada usia tuanya, beliau sangat ingin mengunjungi Kota Basrah.

Seakan ada kekuatan yang menggerakkan beliau, maka sang Imam berangkat sendirian menuju kota Bashrah.

Tiba di Basrah sudah malam, masuk waktu Isya’. Sang Imam pun ikut shalat berjama’ah di Masjid. Tak seorang pun mengenali sang Imam, walaupun nama dan ilmu beliau sudah menyebar ke seluruh penjuru negeri Iraq. Maklum, waktu itu belum ada teknologi yang membuat beliau dikenali masyarakat.

Usai shalat Isya’ berjama’ah, beliau ingin istirahat, tidur di dalam masjid.

Belum lagi tidur, seorang marbot Masjid datang dan menginterogasi beliau.

“Ya Syaikh, apa yang ingin anda lakukan di Masjid ini?”

“Saya ingin istirahat, saya musafir,” jawab sang Imam.

“Tidak boleh ya Syaikh, anda tidak boleh tidur di Masjid!“ ungkap marbot, sambil mendorong sang Imam keluar dari dalam Masjid.

Setelah sang Imam keluar, pintu Masjid pun dikunci. Karena Sang Imam memang lelah dan ingin istirahat, beliau pun tidur di teras masjid.

Baru saja berbaring, marbot datang lagi dan menegur, “Mau apa lagi, Syaikh?”

“Saya ingin tidur, saya musafir,” jawab Imam Ahmad.

“Tidak boleh ya Syaikh. Di dalam Masjid tidak boleh, di teras Masjid juga tidak boleh,” ungkap marbot.

Sang Imam pun kembali diusir, didorong oleh marbot sampai di jalan. Kini sang Imam berada di jalan dekat Masjid.

Dari sebuah rumah kecil di dekat Masjid, seorang penjual roti melihat kejadian tersebut.

Tergerak untuk membantu lelaki yang diusir dari Masjid, tukang roti ini memanggil sang Imam.

“Ya Syaikh, silakan ke sini, anda boleh menginap. Saya punya tempat, meskipun hanya kecil, tapi boleh anda gunakan istirahat”.

“Alhamdulillah, terimakasih,” jawab sang Imam.

Beliau segera masuk ke rumah tukang roti, dan duduk di dekatnya.

Malam itu si tukang roti tengah membuat roti, sebagai kegiatan rutin yang dilakukan. Ada hal menggelitik yang membuat Imam Ahmad semakin memperhatikan si tukang roti.

Jika beliau mengajak bicara, akan dijawab. Jika tidak diajak bicara, lelaki ini terus membuat roti sambil malafalkan istighfar.

Setiap melakukan bagian-bagian aktivitas mengadoni dan membuat roti, ia selalu mengucapkan istighfar. Bibirnya basah oleh istighfar, tak pernah berhenti melafalkan istighfar.

Sang Imam semakin tertarik memperhatikan lelaki ini.

“Saya perhatikan anda selalu melafalkan istighfar. Sudah berapa lama anda rutin melakukan ini?” tanya sang Imam.

“Sudah lama sekali, Syaikh. Saya menjual roti sudah tigapuluh tahun, jadi semenjak itu pula saya lafalkan istighfar“, jawab tukang roti.

”Terus, apa yang anda dapatkan dari aktivitas istighfar ini?” tanya sang Imam.

“Lantaran wasilah istighfar, tidak ada hajat yang saya minta, kecuali pasti dikabulkan Allah. Semua yang saya minta, Allah pasti memberikan, alhamdulillah.”

Sang Imam menyimak dengan penuh perhatian.

“Hanya satu permintaanku yang belum Allah kabulkan,” ungkap lelaki itu.

“Apa itu?” tanya Imam.

“Saya minta kepada Allah agar dipertemukan dengan Imam Ahmad, namun hingga saat ini belum Allah kabulkan,” jawab tukang roti.

Terkejutlah sang Imam. Beliaupun langsung bertakbir, “Allahu Akbar !”

“Allah menggerakkan saya jauh dari Bagdad untuk hadir di Bashrah ini, dan bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot Masjid sampai ke jalan, ternyata karena istighfarmu,” lanjut Sang Imam.

“Jadi, anda kah Imam Ahmad bin Hambal, ya Syaikh?” tanya tukang roti penuh keheranan dan takjub.

Segera ia memeluk dan mencium tangan Imam Ahmad. Tidak pernah menyangka lelaki yang berada di rumahnya itu adalah Imam Ahmad bin Hambal —sosok yang sangat terkenal karena kedalaman ilmu dan kesalihan pribadinya. Nama besar yang membuatnya sangat ingin bertemu hingga sering berdoa kepada Allah agar bisa bertemu, malam hari itu Allah kabulkan.

Demikianlah keajaiban istighfar. Mari perbanyak istighfar, agar Allah kabulkan doa-doa kita.

Semoga bermanfaat

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *