“Kalau suatu perbedaan beragama dipaksakan ditengah masyarakat, pasti akan menimbulkan disintegrasi dan perpecahan bangsa. Tapi kalau persamaan, akan menumbuhkan kedamaian dan keindahan,” demikian yang dikatakan oleh KH. Alamul Huda, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bojonegoro, salah satu pemateri dalam acara yang digelar Kesbangpol Kabupaten Bojonegoro di Pondok Pesantren Miftahul Huda Desa Sendangrejo Kecamatan Dander Bojonegoro Kamis (19/11/2020).

Menurut Gus huda, sapaan akrabnya, Indonesia dihuni oleh sekian banyak suku, agama, ras dan golongan yang mempunyai kesamaan persepsi, serta didasari oleh Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Atau lebih dikenal dengan sebutan empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak mencampuri urusan agama masing – masing, tidak melihat perbedaan suatu hal yang masif tapi mencari persamaan tujuan.

“Ibarat lidi jika sendiri tidak akan bisa membersihkan kotoran. Tapi kalau beberapa lidi digabung jadi sapu, kotoran sebesar apapun akan bisa dibersihkan,” tambah Gus Huda yang mempraktekkannya dengan membawa sapu lidi.

Kegiatan yang dikemas dalam Seminar Hak Asasi Manusia Dalam Rangka Menjaga Toleransi Antar Umat beragama tersebut adalah kegiatan rutin tahunan yang digelar Kesbangpol Kabupaten Bojonegoro. Dengan mengambil tema “Memelihara Kerukunan Umat Beragama Dalam Mencegah Disintegrasi Bangsa Di Era Globalisasi Dan Pandemi Covid-19”. Dihadiri oleh Mahmudi, Kepala Kesbangpol, KH. Alamul Huda, Ketua FKUB, Utusan beberapa ormas Islam termasuk LDII, Muspika Kecamatan Dander, Tokoh Agama Kristen, Protestan, Hindu dan Budha serta Pengurus Pondok Pesantren.

Sementara itu dalam sambutannya, Mahmudi, Kepala Kesbangpol mengatakan, bahwa di Bojonegoro sudah banyak contoh dari peradaban kehidupan beragama yang bisa hidup rukun tanpa adanya suatu permasalahan. Ia mencontohkan di desa Kolong Kecamatan Ngasem dan Dusun Sidokumpul Desa Leran Kecamatan Kalitidu.

“Mereka warga Desa Kolong itu hidup rukun dan damai tanpa ada gesekan. Padahal disana hidup dari berbagai agama. Ada Islam, ada Kristen, ada Protestan dan agama yang lain. Islam sendiri ada NU, ada Muhammadiyah, ada juga LDII. Tapi bisa bahu membahu membangun desa. Demikian juga yang ada di Sidokumpul. Karena mereka selalu mengedepankan persatuan dan kesatuan desa daripada golongan,” terang Mahmudi.

Mahmudi juga menyampaikan permohonan maaf, karena Bupati Bojonegoro Anna Muawanah tidak bisa datang langsung pada kegiatan tersebut, karena ada kegiatan di Jakarta dengan Lemhanas. Sehingga beliau mengisi acara secara daring.

Nashikin, Sekretaris LDII yang mengikuti kegiatan tersebut menyampaikan bahwa kegiatan ini selaras dengan program LDII yang telah dicanangkan sejak lama. Yaitu pelaksanaan Enam Thobiat Luhur, termasuk juga praktek dari sifat royok’an ngalah, keporo ngalah lan rebutan ngalah.

“Jadi memang tema yang diusung dalam kegiatan ini sudah relevan dengan pola kehidupan warga LDII. Insya Alloh kita juga akan bahas dalam forum Musda LDII besok ini. Karena ini materi yang penting untuk kemajuan organisasi,” jelas Nashikin kepada ldiibojonegoro.com seraya mengingatkan bahwa Musda LDII akan dilaksanakan besok hari Sabtu, 28 November 2020 di Gedung Serba Guna Pondok Pesantren Birrul Walidain Klangon.

(Tim KIM DPD LDII Kab Bojonegoro)

4+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *