Demi terciptanya Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) damai di tahun 2019 mendatang, khususnya di Kabupaten Bojonegoro. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) mengadakan acara Silaturrahim Forpimda, Eksekutif dan Ormas seluruh wilayah kerja Kabupaten Bojonegoro di Pendopo Kecamatan Trucuk, Senin (12/11/2018).

Hadir dalam kesempatan itu, Bupati Bojonegoro Anna Muawannah, Kepala Kesbangpol Kusbiyanto, Camat Trucuk Wadji, Kapolsek Trucuk Wiwin Rusli, Danramil Trucuk, Tokoh masyarakat, Ketua ormas dan undangan dari berbagai elemen masyarakat. Acara tersebut mengangkat tema “Melalui Silaturrokhim, Kita Bangun Kebersamaan Menuju Pemilu 2019 Dengan Aman, Damai dan Kondusif”.

Bupati Bojonegoro Anna Muawannah, dalam sambutannya mengatakan, bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar. Memiliki ribuan pulau, ratusan bahasa daerah, adat dan istiadat yang beragam serta agama yang berbeda-beda, merupakan bukti bahwa kekayaan budaya Indonesia melimpah. Kalau keanekaragaman tersebut bisa dijaga, Maka, akan menjadi harmonisasi yang indah dalam kehidupan bermasyarakat.

“Ini yang akan terus kita jaga, apalagi mementumnya mendekati pileg dan pilpres di tahun mendatang. Sedikit saja¬†ada gesekan dimasyarakat, akibatnya bisa fatal. Karena mudah ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan golongan,” jelas Bupati perempuan pertama di Kabupaten Bojonegoro ini.

Bu Anna, sapaan akrabnya melanjutkan, bahwa Kabupaten Bojonegoro diharapkan dapat menjadi pioner terlaksananya revolusi mental yang dicanangkan oleh Presiden RI selama ini. termasuk gerakan-gerakan dari berbagai ormas yang ada, sehingga mampu menjadi partner yang baik dengan pemerintah. Untuk terwujudnya Pemilu damai tahun depan.

Disisi lain, Lestiyo Budi utusan dari LDII yang mengikuti kegiatan tersebut mengatakan, bahwa untuk mewujudkan pemilu damai, dibutuhkan kerjasama yang baik antara seluruh element masyarakat. Mulai dari partai politik, Eksekutif, Legislatif, Yudikatif, KPU, Bawaslu serta seluruh warga masyarakat.

“Kontestasi berpolitik harus didasari dengan jiwa yang besar, sehingga bisa menerima kekalahan. Semua itu adalah hal lumrah dalam menginginkan kekuasaan,” Beber Pak Wo sapaan karibnya kepada ldiibojonegoro.com.

Diharapkan, kegiatan ini bukan hanya menjadi simbol yang berhenti pada titik jenuh suatu acara dan menguap begitu saja tanpa ada tindakan, tapi justru malah bisa menjadi acuan bagi kontestan pemilu agar bisa berpolitik dengan santun. Sehingga Ke-bhineka tunggal ika-an Indonesia tetap terjaga.

 

6+

Users who have LIKED this post:

  • avatar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *