Pengecoran Sarana Ibadah Ponpes Birrul Walidain

Sore itu bertepatan dengan selesainya para santri melaksanakan Sholat Ashar, sebuah truck molen berukuran besar telah terparkir di halaman Ponpes Birrul Walidain. Tidak heran, memang panitia pembangunan pondok mengagendakan pengecoran sarana ibadah yang terletak di ujung selatan kompleks pondok. Pengecoran dengan truck molen untuk mempercepat pengerjaan dan meminimalisir kerumunan. Wabah Covid 19 yang masih mendera membuat banyak hal berubah menyesuaikan keadaan.

Pondok Birrul Walidain ini dirintis sejak akhir 2019 silam di bawah naungan Yayasan Cahaya Berkah Semesta 99 pimpinan Ust. H. Anshori Wijaya. Saat ini menampung santri sejumlah 45 anak yang berasal dari wilayah Bojonegoro, Tuban dan sekitarnya. Ada yang fokus mengaji, ada pula yang sambil belajar di sekolah formal diluar pondok, seperti SMP, SMA bahkan perguruan tinggi.

Meski kondisi ekonomi dalam keadaan tak menentu, namun hal itu tidak menyurutkan semangat warga pondok dan masyarakat sekitar untuk andil menanam pahala jariyah. Tidak sedikit yang menyisihkan hartanya untuk diserahkan kepada pengurus pondok meski pekerjaan sehari-hari tidak mendapatkan hasil maksimal sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Ada yang berjualan nasi goreng di malam hari, penjaja kue keliling, bahkan tukang becak semua bahu membahu mewujudkan sarana untuk keberlangsungan pondok.

Warga pondok dan masyarakat sekitar sangat antusias dengan keberadaan pondok ini. Mereka sadar bahwa harta yang hakiki adalah harta yang telah dimakan hingga habis, dipakai hingga rusak dan yang disedekahkan untuk terus dipanen pahalanya kelak sebagai amal jariyah. Ketika manusia meninggal dunia, maka putuslah amal ibadahnya kecuali dari tiga hal yang akan terus mengalir pahala untuknya. Ketiga hal itu ialah: anak sholih-sholihah yang senantiasa mendoakan kedua orang tuanya, ilmu yang bermanfaat dan sedekah jariyah. Rasulullah SAW telah menyampaikan pesan ini 14 abad yang lalu.

Bahkan Allah SWT berfirman dalam Alquran tentang penyesalan seseorang yang terlena dengan harta yang dimiliki di dunia hingga tidak sempat bersedekah. Bahwa, ketika ajal maut menjemput, berharap penangguhan dari Allah SWT sehingga diberi kesempatan untuk bersedekah. Sesuatu yang mustahil. Sebab, ketika ajal datang, tak ada yang mampu menundanya atau mempercepat datangnya.

يا ايها الذين ءامنوا لا تلهكم اموالكم ولا اولادكم عن ذكر الله, ومن يفعل ذالك فأولئك هم الخاسرون. وانفقوا مما رزقناكم من قبل ان يأتي احدكم الموت, فيقول رب لاولا اخرتني إلى اجل قريب فأصدق و اكن من الصالحين. ولن يؤخر الله نفسا ا ذا جاء اجلها والله خبير بما تعملون. سورة المنافقون 9-11

Betapa mulianya pahala bersedekah, hingga orang yang akan matipun meminta penangguhan agar dapat melakukannya. Terlebih di era pandemic saat ini, tentu kepedulian terhadap sesama sangat dibutuhkan. Orang jawa mengatakan “tepo seliro” sebagai ungkapan untuk menunjukkan kepedulian kepada liyan.

Ada sebagian dari tetangga kita yang mungkin sedang menjalankan isolasi mandiri karena dinyatakan positif covid 19. Sekeluarga dengan anak-anak yang masih kecil. Ayah dan ibunya positif dan harus isolasi. Tidak bisa bekerja karena pekerjaannya adalah berjualan pentol keliling. Terpaksa anak-anak dititipkan kepada kakek neneknya yang juga sudah sepuh. Sungguh sangat berterima kasih kepada tetangga kanan kiri yang mengirimkan makanan maupun kebutuhan lainnya.

Bersedekah tidak harus menunggu kaya. Orang jawa mengatakan: “sing grojok yo grojok, sing mili yo mili, sing mrembes yo mrembes”. Bersedekah sesuai kemampuan. Ibarat telur, meskipun telur burung gereja terlihat sangat kecil jika dibandingkan dengan telur kasuari, namun mengeluarkannya sama-sama dengan bersusah payah.

Selain sedekah untuk mewujudkan bangunan masjid-mushola yang megah, aula pertemuan serba guna untuk kegiatan umat, atau bangunan fisik lainnya, bersedekah juga bisa dilakukan dengan memberikan perhatian kepada saudara yang diuji dengan sakit di saat pandemic ini. Berbagi dengan tetangga sekitar sehingga dapat mengurangi kesedihan. Membantu untuk segera bangkit dan tetap memiliki semangat untuk sembuh.

Banyak konglomerat yang semakin kaya, justru karena senang berbagi. Sampai-sampai ada sebuah seminar dengan judul “Cara Gila jadi Pengusaha” yang diberikan oleh Purdi E Chandra, owner Primagama, yang salah satu kiatnya adalah dengan memperbanyak sedekah. Jika umumnya orang memberikan ongkos parkir Rp. 2000,- hingga Rp. 5000,-, maka sekali-kali kasih kejutan dengan memberikan Rp. 500.000,-.

Tuntunan agama memberikan garansi, bahwa sedekah itu tidak mengurangi harta sedikitpun. Rasululullah SAW berpesan:

ما نقصت صدقة من مال. رواه مسلم

Bahkan dalam sebuah hadis qudsy Allah menjanjikan balasan yang berlipat bagi mereka yang mau bersedekah.

يا ابن آدم, أنفق أنفق عليك. رواه مسلم

Sebelum ajal menghampiri, masih ada kesempatan bagi kita untuk menyisihkan apa yang kita miliki untuk disedekahkan. Jangan takut melarat karena suka bersedekah. Sumurpun akan menjadi jernih jika sering ditimba airnya. Dan justru akan berbau tidak sedap jika tak pernah dipakai. Mari bersedekah sebelum menyesal. Penyesalan datangnya pasti di akhir, kalau di awal namanya pendaftaran. :p

2+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *